Keris Jalak Sumelang Gandring: Filosofi Kekhawatiran dan Cinta kepada Tuhan
“Yang paling kita khawatirkan untuk kehilangan, barangkali adalah sesuatu yang paling kita cintai.”
Ada sebuah filosofi menarik di balik Keris Jalak Sumelang Gandring. Dalam pemaknaannya, sumelang berarti kekhawatiran, sedangkan gandring dimaknai sebagai cinta kepada Sang Pencipta. Keduanya menjadi perlambang kekhawatiran seorang hamba kehilangan cintanya kepada Tuhan.
Dalam pemaknaan yang dikaitkan dengan masa Majapahit, filosofi ini juga dapat dibaca dalam hubungan antara rakyat dan penguasa: sebuah kekhawatiran akan hilangnya cinta, kepercayaan, dan kesetiaan rakyat kepada rajanya.
Jika dibawa ke kehidupan hari ini, makna sumelang itu barangkali masih sangat relevan. Kekhawatiran rakyat terhadap penguasa tidak selalu berarti kebencian kepada negara, apalagi ketidakcintaan kepada negeri. Justru karena mencintai negeri, seseorang bisa merasa perlu menyampaikan kekhawatiran terhadap kebijakan pemerintah.
Kritik tidak selalu lahir dari keinginan untuk menjatuhkan. Kadang ia lahir dari rasa memiliki. Ketika sebuah kebijakan dirasakan berpotensi menyulitkan rakyat, mengganggu keadilan, atau menjauh dari harapan masyarakat, menyampaikan kegelisahan adalah bagian dari kepedulian.
Barangkali inilah bentuk sumelang pada zaman sekarang: rasa khawatir seorang rakyat terhadap arah kebijakan penguasanya, bukan karena ia tidak mencintai negerinya, tetapi justru karena ia ingin negerinya tetap berada di jalan yang baik.
Spesifikasi Keris Jalak Sumelang Gandring
Keris ini menggunakan dapur Jalak Sumelang Gandring, pamor Wengkon Isi, dan memiliki tangguh Cirebon. Warangkanya menggunakan Gayaman Solo dengan pendok blewah.
Ricikan pada bilah antara lain gandik polos, sogokan satu di bagian depan, sraweyan, serta tingil atau greneng. Detail-detail kecil inilah yang kemudian menjadi penting ketika menentukan nama dan karakter sebuah dapur keris.
Jalak Sumelang Gandring atau Jalak Nyucup Madu?
Di sinilah keris ini menjadi semakin menarik. Sebagian pemerhati keris berpendapat bahwa bentuknya lebih memenuhi kriteria Jalak Nyucup Madu, terutama karena adanya sogokan. Sementara pendapat lain menyebut bahwa Jalak Sumelang Gandring tidak menggunakan sogokan.
Perbedaan juga muncul pada keberadaan greneng. Sebagian menyebut Jalak Nyucup Madu tidak memiliki greneng, sedangkan pada keris ini justru terdapat tingil atau greneng.
Perbedaan pendapat seperti ini sebenarnya merupakan bagian dari dinamika ilmu keris. Pengetahuan tentang keris pada masa lalu banyak diwariskan melalui budaya tutur, dari guru kepada murid dan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tidak semuanya dibukukan secara sistematis, sehingga perbedaan istilah, kriteria, dan penafsiran sangat mungkin terjadi.
Justru di situlah menariknya mempelajari keris. Kita tidak hanya membaca bentuk sebuah bilah, tetapi juga menelusuri perjalanan pengetahuan dan kebudayaan yang menyertainya.
Dan mungkin, dari Jalak Sumelang Gandring kita kembali diingatkan: mencintai negeri tidak berarti harus selalu membenarkan penguasa. Ada kalanya cinta justru hadir dalam bentuk kekhawatiran, kritik, dan keberanian untuk mengingatkan.
Sebab pada akhirnya, cinta yang berharga bukan hanya untuk dimiliki, tetapi untuk terus dijaga.




















Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.