Beranda » Masterpiece » Keris Nom noman HB 5
click image to preview activate zoom

Keris Nom noman HB 5

Rp 35.000.000
Stok Tersedia
Kategori Masterpiece, Sengkelat
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan yang lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Nom noman HB 5

Keris Nusantara · Mataram Yogyakarta · Keris Nom-Noman

Keris Nom-Noman Tangguh Hamengkubuwono V:
Sengkelat dengan Pamor Wengkon Isi

Ada sebuah masa dalam perjalanan keris Mataram ketika usia tidak lagi
menjadi satu-satunya ukuran untuk memahami sebuah pusaka. Setelah
perjalanan panjang Mataram dan lahirnya dua pusat kekuasaan di
Surakarta dan Yogyakarta, tradisi perkerisan berkembang dengan
karakter estetikanya masing-masing.

Apa Itu Keris Nom-Noman?

Dalam dunia perkerisan, istilah nom-noman secara sederhana
dapat dipahami sebagai istilah untuk menyebut keris yang berasal dari
periode yang lebih muda dibandingkan keris-keris Mataram awal.

Dalam penggunaan yang lebih luas di kalangan pemerhati keris, istilah
keris nom-noman sering dikaitkan dengan keris dari
lingkungan Yogyakarta dan Surakarta setelah perubahan politik dan
kebudayaan yang terjadi pada pertengahan abad ke-18 hingga periode
berikutnya.

Perlu dipahami bahwa istilah nom-noman bukan sekadar penanda
bahwa sebuah keris dibuat “belakangan”. Istilah tersebut juga membawa
konteks mengenai perkembangan gaya, teknik garap, bahan, dan estetika
keris pada masa setelah Mataram terpecah ke dalam pusat-pusat kekuasaan
baru.

Giyanti dan Lahirnya Dua Tradisi Mataram

Untuk memahami keris nom-noman Yogyakarta dan Surakarta, kita perlu
mundur terlebih dahulu ke tahun 1755.

Pada 13 Februari 1755, Perjanjian Giyanti menjadi salah satu titik penting
dalam sejarah Mataram Islam. Perjanjian tersebut membagi wilayah Mataram
antara Paku Buwana III yang berpusat di Surakarta dan Pangeran Mangkubumi
yang kemudian menjadi Sultan Hamengku Buwana I dengan pusat pemerintahan
di Yogyakarta.

Pembagian tersebut bukan hanya mengubah peta politik Jawa. Dalam
perjalanan berikutnya, Yogyakarta dan Surakarta juga mengembangkan
lingkungan kebudayaan, seni, tata busana, bahasa, dan estetika keraton
dengan ciri khas masing-masing.

Dunia perkerisan pun tidak dapat dilepaskan dari perkembangan tersebut.
Karena itu, ketika seseorang berbicara mengenai
keris Mataram Yogyakarta atau
keris Mataram Surakarta, yang dibicarakan bukan hanya
umur sebuah bilah, tetapi juga lingkungan budaya yang melahirkannya.

Keris Nom-Noman Mataram Yogyakarta

Keris-keris nom-noman yang dikaitkan dengan lingkungan Yogyakarta maupun
Surakarta dikenal di kalangan pemerhati keris karena karakter garap dan
estetika yang khas.

Pada keris Yogyakarta, misalnya, kita mengenal berbagai bentuk dan
kelengkapan yang kemudian menjadi bagian dari identitas gaya Jogja.
Salah satunya dapat dilihat dari penggunaan warangka Gayaman
gaya Yogyakarta
, yang mempunyai karakter tersendiri dalam
tradisi busana dan perkerisan keraton.

Namun, penting untuk tidak menyederhanakan seluruh keris nom-noman sebagai
satu kelompok yang seragam. Setiap bilah dapat memiliki karakter yang
berbeda, tergantung periode, lingkungan pembuat, teknik garap, bahan,
ricikan, pamor, dan kelengkapan lainnya.

Besi Pilihan dan Garap yang Matang

Salah satu hal yang menarik dari keris lama adalah bagaimana kualitas
sebuah bilah tidak hanya ditentukan oleh bentuknya.

Bahan dan proses garap menjadi bagian penting dalam
membaca sebuah keris.

Besi yang digunakan oleh seorang empu harus melalui proses pengolahan dan
penempaan yang panjang. Dalam tradisi keris, proses tersebut bukan pekerjaan
sederhana. Besi ditempa, dilipat, disatukan, dibentuk, kemudian digarap
menjadi sebuah bilah dengan karakter tertentu.

Pada keris yang kondisinya masih baik setelah melewati waktu yang panjang,
kita dapat melihat bagaimana kualitas material dan pengerjaan masa lalu
meninggalkan jejak pada bilah.

Karena itu, ketika melihat sebuah keris nom-noman yang masih utuh,
memiliki permukaan bilah yang matang, serta memperlihatkan karakter garap
yang kuat, kita sebenarnya sedang melihat hasil dari pertemuan antara
material, keterampilan empu, teknologi tempa, dan tradisi
kebudayaan
.

Mengenal Sri Sultan Hamengku Buwono V

Salah satu periode yang menarik dalam sejarah keris Yogyakarta adalah masa
pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono V.

Menurut sumber resmi Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono V
memerintah pada periode 1823–1855. Beliau lahir dengan
nama Gusti Raden Mas Gatot Menol, putra Sri Sultan
Hamengku Buwono IV dengan Gusti Kanjeng Ratu Kencono.

Ketika ayahandanya wafat pada tahun 1823, beliau diangkat menjadi
Sri Sultan Hamengku Buwono V ketika usianya baru sekitar tiga tahun.
Karena usia beliau masih sangat muda, pemerintahan didampingi oleh
dewan perwalian.

Masa tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah Kasultanan Yogyakarta.
Oleh karena itu, apabila sebuah bilah memiliki karakter yang oleh
pemerhati keris diperkirakan berkaitan dengan masa Hamengku Buwono V,
penilaian tersebut idealnya tidak hanya didasarkan pada usia, tetapi juga
pada keseluruhan karakter bilah.

Keris Sengkelat Pamor Wengkon Isi

Keris yang sedang kita bahas kali ini memiliki
dapur Sengkelat dengan
Pamor Wengkon Isi.

Spesifikasi Keris
Dapur Sengkelat
Pamor Wengkon Isi
Tangguh Estimasi Hamengkubuwono V
Gaya Yogyakarta / Mataram Yogyakarta
Warangka Gayaman gaya Yogyakarta
Mendak Perak

Dapur Sengkelat memberikan karakter yang tegas pada bilah. Sementara itu,
Pamor Wengkon Isi menjadi salah satu unsur yang menarik untuk diamati
karena pola pamor merupakan bagian penting dalam membaca keindahan dan
karakter sebuah keris.

Dalam melihat sebuah keris, tentu tidak cukup hanya menyebut nama dapur
dan pamornya. Bentuk ricikan, kualitas garap, karakter material,
keselarasan bilah, serta hubungan antara bilah dan warangka juga menjadi
bagian dari keseluruhan karya.

Catatan Identifikasi Keris

Penyebutan “Tangguh Hamengkubuwono V” dalam artikel ini merupakan identifikasi atau estimasi berdasarkan data koleksi yang tersedia, bukan sertifikasi akademis. Penentuan tangguh secara lebih meyakinkan idealnya dilakukan melalui pemeriksaan langsung terhadap bilah, ricikan, karakter besi, pamor, teknik garap, ukuran, dan unsur pembentuk lainnya oleh pemerhati atau ahli perkerisan.

Demikian pula istilah “nom-noman” digunakan sebagai istilah dalam konteks tradisi perkerisan dan tidak sebaiknya dipahami sebagai batas kronologis tunggal yang berlaku mutlak untuk seluruh koleksi keris.

Sembarang Kalir

Merawat pusaka, memahami budaya, dan membaca kembali filosofi Nusantara melalui warisan yang ditinggalkan oleh para leluhur.

Tags: , , , , , ,

Keris Nom noman HB 5

Berat 300 gram
Kondisi Baru
Dilihat 9 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Produk Terkait
Sidebar
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

Chat via Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin
● online
Admin
● online
Halo, perkenalkan saya Admin
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja