Keris Pusaka Jalak Sangu Tumpeng
Rp 2.200.000| Stok | Tersedia |
| Kategori | Jalak Sangu Tumpeng |
Keris Pusaka Jalak Sangu Tumpeng


Diskripsi Keris Pusaka Jalak Sangu Tumpeng
Dapur keris : Jalak Sangu Tumpeng
Pamor Keris Ngulit Semangka
Tangguh Tuban
Warangka keris menggunakan gayaman solo berbahan kayu timoho dengan balutan pendok bunton
Tumpeng Terakhir Di Akhir Jaman
Hal-hal yang tersirat dalam dapur Jalak Sangu Tumpeng merupakan pandangan dan pegangan hidup untuk mencapai sukses dalam bekerja dan berusaha. nilai-nilai luhur yang terkandung dalam dapur ini dijadikan sebagai pepeleng simbol pusaka agar dalam mencari nafkah harus berperilaku utama, yakni sesuai dengan ajaran agama dan norma – norma yang berlaku di dalam masyarakat.
Seperti cerita jaman dahulu, disuatu wilayah Hujan turun seperti doa yang jatuh satu per satu ke bumi. Di pendapa tua yang nyaris runtuh, Ki Bambang Wiratma duduk bersila, menatap sebilah keris lurus di hadapannya. Cahaya lampu minyak memantul di bilahnya—tenang, dingin, namun menyimpan denyut kehidupan yang tak kasatmata.
Itulah Keris Jalak Sangu Tumpeng. Bukan pusaka sembarangan. Keris itu telah menemani tujuh generasi leluhurnya, menjadi saksi jatuh bangunnya manusia yang memegang amanah. Konon, siapa pun yang menggenggamnya dengan niat serakah, akan kehilangan segalanya. Namun bagi mereka yang menjaga laku dan rasa syukur, keris itu menjadi bekal hidup yang tak pernah habis.
Malam itu, Ki Bambang Wiratma tahu waktunya telah tiba.
“Rezeki bukan untuk ditumpuk,” gumamnya lirih. “Ia untuk dibagikan, seperti tumpeng yang dipotong dari puncaknya.”
Langkah kaki terdengar mendekat. Surya Wisesa, murid terakhirnya, berdiri di ambang pendapa. Matanya menyimpan bara—ambisi, ketakutan, dan harapan bercampur menjadi satu.
“Guru,” katanya, suaranya bergetar, “desa kita akan dirampas. Para penguasa datang membawa emas dan ancaman. Jika aku membawa keris itu… aku bisa melawan.”
Ki Bambang Wiratma tersenyum tipis. Ia menggeleng pelan.
“Keris ini bukan untuk menaklukkan orang lain,” katanya. “Ia untuk menaklukkan dirimu sendiri.”
Ia mengangkat keris itu dengan dua tangan, seolah sedang mengangkat sesaji. Pada bilahnya, pantulan api bergetar seperti napas manusia.
“Jalak Sangu adalah bekal,” lanjutnya. “Tumpeng adalah doa. Jika kau gunakan untuk berkuasa, bilah ini akan menjadi beban. Namun jika kau gunakan untuk melindungi, ia akan menjadi cahaya.”
Petir menyambar, menggetarkan langit. Dalam sekejap, angin berhenti. Dunia seperti menahan napas. Surya Wisesa berlutut. Tangannya gemetar saat menerima keris itu. Bukan dingin yang ia rasakan, melainkan hangat—seperti tangan ayah yang menuntun langkah anaknya. Beberapa hari kemudian, para penguasa datang. Namun mereka tak menemukan perlawanan bersenjata. Yang mereka temui adalah rakyat yang bersatu, pemimpin muda yang tegas namun rendah hati, dan keberanian yang tak bisa dibeli dengan emas. Desa itu selamat.
Bertahun-tahun berlalu. Surya Wisesa menjadi pemimpin yang dikenang bukan karena kekuasaannya, melainkan karena kecukupan yang ia jaga. Di setiap selamatan panen, selalu ada tumpeng di tengah pendapa—dan di sampingnya, sebilah keris terbungkus kain putih.
Orang-orang berkata, keris itu tak pernah berkilau mencolok. Namun selama niat pemiliknya lurus, rezeki akan selalu menemukan jalannya.
Karena sejatinya, Tumpeng terakhir bukan tentang puncak tertinggi, melainkan tentang siapa yang rela membaginya.
Keris Pusaka Jalak Sangu Tumpeng
| Berat | 300 gram |
| Kondisi | Baru |
| Dilihat | 31 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Jalak Sangu tumpeng Sepuh Dapur keris jalak sangu tumpeng atau biasa disebut JST Pamor keris ngulit semangka Tangguh estimasi madiun Warangkanya memakai gayaman solo dengan pendok slorok bunton. Keris Jalak Sangu Tumpeng adalah salah satu dhapur (bentuk) keris lurus yang populer dan dianggap keramat/pusaka keluarga. Keris ini memiliki ciri khas ricikan gandik tegas, sogokan… selengkapnya
Rp 2.500.000







Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.