Beranda » Blog » Tilam Upih Alas Jiwa Yang Terlupakan

Tilam Upih Alas Jiwa Yang Terlupakan

Diposting pada 20 December 2025 oleh admin / Dilihat: 20 kali / Kategori: ,

Ricikan Pada Keris Dapur Tilam Upih

Bentuk: Lurus.
Gandik: Polos (tanpa ricikan lain).
Ricikan: Hanya memiliki tikel alis dan pejetan.
Ganja: Polos, tidak ada greneng (gigi-gigi kecil).

Keris Tilam Upih lahir dari keheningan dan laku batin yang dalam. Namanya mengandung makna kesederhanaan sekaligus keteguhan: tilam berarti alas atau tempat berbaring, sedangkan upih adalah pelepah pinang yang membungkus dengan lembut namun kuat. Dari makna itu, keris ini menjadi perlambang perlindungan, keteduhan, dan keteguhan hati dalam menjalani kehidupan.
Bilah Keris Tilam Upih umumnya lurus, sederhana tanpa pamor yang mencolok. Namun justru di situlah letak wibawanya. Ia tidak menonjolkan keindahan lahir, melainkan menyimpan kekuatan batin. Pamornya sering samar, seolah menyatu dengan besi, melambangkan sifat rendah hati dan kesanggupan menyimpan rahasia.
Keris ini dipercaya sebagai pusaka pengayom, memberi ketentraman bagi pemiliknya. Ia menjadi “alas” bagi jiwa yang gelisah, menenangkan hati, serta menjaga rumah tangga dari perselisihan dan energi buruk. Keris Tilam Upih tidak mencari kekuasaan, tetapi mengajarkan kebijaksanaan, kesabaran, dan kesetiaan.
Dalam tradisi, pusaka ini sering dikaitkan dengan pemimpin yang adil atau pribadi yang telah matang batinnya. Ia mengingatkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kemegahan, melainkan pada kemampuan melindungi, mengayomi, dan meneduhkan sekitar.
Keris Tilam Upih pun menjadi saksi bahwa kesederhanaan yang dilandasi keikhlasan mampu melahirkan kewibawaan yang abadi.

Tilam Upih: Alas Jiwa yang Terlupakan

Tatkala angin masih menjadi pembawa kabar dan manusia hidup dalam bayang titah leluhur. Hujan turun sejak sore, membasahi halaman rumah joglo peninggalan leluhur Ki Surya Wiratma. Angin malam membawa bau tanah basah, bercampur dengan aroma dupa yang perlahan mengepul dari sudut pendapa. Di hadapannya, terbaring sebuah keris berbilah lurus dalam warangka kayu tua—Keris dapur Tilam Upih.
Keris itu tampak biasa. Tak ada pamor berkilau, tak ada ukiran emas. Namun malam itu, dada Ki Surya Wiratma terasa sesak saat memandangnya. Sejak kematian ayahnya, hidupnya seperti kehilangan arah. Jabatan yang diincarnya direbut orang lain, usahanya runtuh, dan rumah tangganya nyaris retak oleh pertengkaran yang tak berkesudahan.
“Untuk apa pusaka ini?” gumamnya getir. “Jika hidup tetap saja jatuh.”
Dalam keputusasaan, ia teringat pesan ayahnya sebelum wafat.
“Rawat Tilam Upih-mu. Ia bukan untuk tangan yang dikuasai nafsu.”
Malam itu, Ki Surya Wiratma nekat mencabut bilah keris dari warangkanya. Udara seketika terasa berat. Api lampu minyak bergoyang, seolah ketakutan. Namun tak ada kilau sakti, tak ada suara gaib—hanya dingin yang merambat dari besi ke tulangnya.
Ia marah. Pada nasib, pada pusaka, pada dirinya sendiri.
Tanpa sadar, amarah itu membawanya terlelap. Dalam tidurnya, ia berada di sebuah padepokan sunyi. Seorang empu tua duduk bersila, tubuhnya diselimuti asap tipis.
“Engkau mencabut Tilam Upih bukan untuk bertanya,” ujar sang empu, suaranya tenang namun menghunjam. “Melainkan untuk menuntut.”
“Aku ingin hidupku kembali,” teriak Ki Surya Wiratma. “Aku ingin dihormati!”
Empu itu tersenyum pahit.
“Tilam Upih bukan senjata perebutan. Ia alas bagi jiwa yang ingin beristirahat dari keangkuhan.”
Empu itu lalu menunjuk bilah keris. Seketika, Ki Surya Wiratma melihat bayangan hidupnya sendiri—pertengkaran, ambisi, kata-kata tajam yang melukai orang terdekat. Dadanya sesak.
“Letakkan bebanmu,” kata sang empu. “Atau kau akan hancur oleh beratnya.”
Ia terbangun dengan air mata membasahi pipi. Keris itu masih berada di pangkuannya, tak berubah, tak bergerak. Namun hatinya terasa runtuh sekaligus ringan.
Hari-hari berikutnya, Ki Surya Wiratma mulai berubah. Ia melepaskan ambisi yang menggerogoti pikirannya, meminta maaf pada istrinya, dan menerima hidup dengan kesederhanaan. Usahanya memang belum pulih sepenuhnya, tetapi ketenangan mulai kembali.
Suatu malam Jumat Kliwon, ia hanya meletakkan Keris Tilam Upih di hadapannya, tanpa mencabutnya. Ia bersujud.
“Terima kasih,” bisiknya. “Telah menjadi alas bagi jiwaku yang rapuh.”
Di luar, hujan reda. Angin berhenti berdesir. Keris dapur Tilam Upih tetap diam, setia pada kodratnya—bukan untuk menaklukkan dunia, melainkan menidurkan kesombongan manusia.

 

Bagikan ke

Tilam Upih Alas Jiwa Yang Terlupakan

Saat ini belum tersedia komentar.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Tilam Upih Alas Jiwa Yang Terlupakan

Sidebar
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

Chat via Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin
● online
Admin
● online
Halo, perkenalkan saya Admin
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja