Tilam Upih Alas Jiwa Yang Terlupakan
Ricikan Pada Keris Dapur Tilam Upih
Bentuk: Lurus.
Gandik: Polos (tanpa ricikan lain).
Ricikan: Hanya memiliki tikel alis dan pejetan.
Ganja: Polos, tidak ada greneng (gigi-gigi kecil).
Keris Tilam Upih lahir dari keheningan dan laku batin yang dalam. Namanya mengandung makna kesederhanaan sekaligus keteguhan: tilam berarti alas atau tempat berbaring, sedangkan upih adalah pelepah pinang yang membungkus dengan lembut namun kuat. Dari makna itu, keris ini menjadi perlambang perlindungan, keteduhan, dan keteguhan hati dalam menjalani kehidupan.
Bilah Keris Tilam Upih umumnya lurus, sederhana tanpa pamor yang mencolok. Namun justru di situlah letak wibawanya. Ia tidak menonjolkan keindahan lahir, melainkan menyimpan kekuatan batin. Pamornya sering samar, seolah menyatu dengan besi, melambangkan sifat rendah hati dan kesanggupan menyimpan rahasia.
Keris ini dipercaya sebagai pusaka pengayom, memberi ketentraman bagi pemiliknya. Ia menjadi “alas” bagi jiwa yang gelisah, menenangkan hati, serta menjaga rumah tangga dari perselisihan dan energi buruk. Keris Tilam Upih tidak mencari kekuasaan, tetapi mengajarkan kebijaksanaan, kesabaran, dan kesetiaan.
Dalam tradisi, pusaka ini sering dikaitkan dengan pemimpin yang adil atau pribadi yang telah matang batinnya. Ia mengingatkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kemegahan, melainkan pada kemampuan melindungi, mengayomi, dan meneduhkan sekitar.
Keris Tilam Upih pun menjadi saksi bahwa kesederhanaan yang dilandasi keikhlasan mampu melahirkan kewibawaan yang abadi.
Tilam Upih: Alas Jiwa yang Terlupakan
Tatkala angin masih menjadi pembawa kabar dan manusia hidup dalam bayang titah leluhur. Hujan turun sejak sore, membasahi halaman rumah joglo peninggalan leluhur Ki Surya Wiratma. Angin malam membawa bau tanah basah, bercampur dengan aroma dupa yang perlahan mengepul dari sudut pendapa. Di hadapannya, terbaring sebuah keris berbilah lurus dalam warangka kayu tua—Keris dapur Tilam Upih.
Keris itu tampak biasa. Tak ada pamor berkilau, tak ada ukiran emas. Namun malam itu, dada Ki Surya Wiratma terasa sesak saat memandangnya. Sejak kematian ayahnya, hidupnya seperti kehilangan arah. Jabatan yang diincarnya direbut orang lain, usahanya runtuh, dan rumah tangganya nyaris retak oleh pertengkaran yang tak berkesudahan.
“Untuk apa pusaka ini?” gumamnya getir. “Jika hidup tetap saja jatuh.”
Dalam keputusasaan, ia teringat pesan ayahnya sebelum wafat.
“Rawat Tilam Upih-mu. Ia bukan untuk tangan yang dikuasai nafsu.”
Malam itu, Ki Surya Wiratma nekat mencabut bilah keris dari warangkanya. Udara seketika terasa berat. Api lampu minyak bergoyang, seolah ketakutan. Namun tak ada kilau sakti, tak ada suara gaib—hanya dingin yang merambat dari besi ke tulangnya.
Ia marah. Pada nasib, pada pusaka, pada dirinya sendiri.
Tanpa sadar, amarah itu membawanya terlelap. Dalam tidurnya, ia berada di sebuah padepokan sunyi. Seorang empu tua duduk bersila, tubuhnya diselimuti asap tipis.
“Engkau mencabut Tilam Upih bukan untuk bertanya,” ujar sang empu, suaranya tenang namun menghunjam. “Melainkan untuk menuntut.”
“Aku ingin hidupku kembali,” teriak Ki Surya Wiratma. “Aku ingin dihormati!”
Empu itu tersenyum pahit.
“Tilam Upih bukan senjata perebutan. Ia alas bagi jiwa yang ingin beristirahat dari keangkuhan.”
Empu itu lalu menunjuk bilah keris. Seketika, Ki Surya Wiratma melihat bayangan hidupnya sendiri—pertengkaran, ambisi, kata-kata tajam yang melukai orang terdekat. Dadanya sesak.
“Letakkan bebanmu,” kata sang empu. “Atau kau akan hancur oleh beratnya.”
Ia terbangun dengan air mata membasahi pipi. Keris itu masih berada di pangkuannya, tak berubah, tak bergerak. Namun hatinya terasa runtuh sekaligus ringan.
Hari-hari berikutnya, Ki Surya Wiratma mulai berubah. Ia melepaskan ambisi yang menggerogoti pikirannya, meminta maaf pada istrinya, dan menerima hidup dengan kesederhanaan. Usahanya memang belum pulih sepenuhnya, tetapi ketenangan mulai kembali.
Suatu malam Jumat Kliwon, ia hanya meletakkan Keris Tilam Upih di hadapannya, tanpa mencabutnya. Ia bersujud.
“Terima kasih,” bisiknya. “Telah menjadi alas bagi jiwaku yang rapuh.”
Di luar, hujan reda. Angin berhenti berdesir. Keris dapur Tilam Upih tetap diam, setia pada kodratnya—bukan untuk menaklukkan dunia, melainkan menidurkan kesombongan manusia.
Tilam Upih Alas Jiwa Yang Terlupakan
Pulanggeni Aroma Keharuman Ratus Keris Pulang Geni merupakan salah satu pusaka yang dikenal luas dalam tradisi keris Jawa. Nama Pulang Geni secara harfiah berarti kembali ke api, yang dimaknai sebagai simbol proses pemurnian diri dan kembalinya seseorang pada asal nilai dan tanggung jawabnya. Bisa bermakna juga simbolik “ratus/dupa/kemenyan” yang melambangkan kewajiban berbuat baik agar memiliki… selengkapnya
Keris Sengkelat Di Tanah Madubronto Keris dapur Sengkelat berdiri sebagai lambang keteguhan dan kewibawaan dalam khazanah budaya Nusantara. Bilahnya berluk, tegas dan berirama, seolah menyimpan denyut waktu yang panjang. Setiap lekuknya bukan sekadar hiasan, melainkan jejak perjalanan batin—tentang keberanian yang ditempa oleh kesabaran, dan kekuatan yang lahir dari pengendalian diri. Ricikan yang lengkap pada dapur… selengkapnya
Ricikan Pada Keris Dapur Tilam Upih Bentuk: Lurus. Gandik: Polos (tanpa ricikan lain). Ricikan: Hanya memiliki tikel alis dan pejetan. Ganja: Polos, tidak ada greneng (gigi-gigi kecil). Keris Tilam Upih lahir dari keheningan dan laku batin yang dalam. Namanya mengandung makna kesederhanaan sekaligus keteguhan: tilam berarti alas atau tempat berbaring, sedangkan upih adalah pelepah pinang… selengkapnya
Keris Lurus Dapur Pasopati Dapur keris Pasopati Pamor kuta mesir, rojo gundala Tangguh estimasi Kartasura Warangka gayaman solo dengan paduan pendok blewah.. Ricikan keris pasopati memiliki dua sogokan, kembang kacang pogog, lambe gajah, jalen, tikel alis dan greneng. Keris Pasopati adalah dhapur (model) keris lurus yang sangat populer di kalangan kolektor, melambangkan kepemimpinan, perjuangan, dan… selengkapnya
Rp 3.500.000Keris Pusaka Tebu Saoyotan Jenis dapur luk 3 bernama Tebu Saoyotan Pamor keris beras wutah Perkiraan tangguh Mataram HB Sedangkan untuk warangkanya sesuai dengan warangka gayaman jogja kayu timoho Pendok memakai pendok slorok bunton gaya khas Jogjakarta. Keris Tebu saoyotan merupakan keris yang memuat filosofi keseimbangan dan keselarasan hidup, menghadirkan rasa tenteram dan damai.. Keris… selengkapnya
Rp 6.000.000Keris Sempana Madura Sepuh Dapur Keris Sempana Pamornya kulit semangka Tangguh madura sepuh Warangka ladrang solo kayu timoho dengan balutan pendok blewah. Pamor pada keris sempana luk 9 sembilan ini terkesan tegas dan kaku sebagaimana menjadi ciri khas keris-keris yang bertangguh Madura. Filosofi Keris Sempono (Sempana) berpusat pada harapan, cita-cita, dan visi yang baik, berasal… selengkapnya
Rp 3.200.000Keris Kebo Lajer Semangat Daya Juang Dapur Kebo Lajer Pamor Wengkon Isen Tangguh Perkiraan Tuban Warangka memakai gayaman solo dengan pendok blewah Makna Simbolis Keris Kebo/Mahesa Lajer Kebo (Kerbau): Hewan yang identik dengan kesuburan tanah, kerja keras, dan kekuatan. Lajer (Lurus): Melambangkan kejujuran, keteguhan hati, dan kesederhanaan. Kegunaan dan Nilai Keris Kebo Lajer Melengkapi koleksi… selengkapnya
Rp 2.500.000Keris Naga Liong Luk 7 Dapur keris Naga Liong bentuk dapur dengan ganan naga liong atau naga cina Pamor keleng kinatah kamarogan Tangguh Kamardikan Warangka ladrang solo dengan pendok bunton silih asih dapur naga liong merupakan bentuk naga yang diadopsi dari tiongkok dan merupakan jenis dapur baru yang menurut catatan penulis tidak ada pakem dalam… selengkapnya
Rp 3.800.000Keris Jalak Ngore Tangguh HB 7 Dapur Keris Jalak Ngore Pamor Slewah Pedaringan kebak dan Telaga Membleng Tangguh Perkiraan HB 7 ( Hamengkubuwono 7 ) Warangka Gayaman gaya jogja pendok bunton Jalak Ngore merupakan jenis dapur dengan gandik lugas, memiliki pejetan, tikel alis, sraweyan dan greneng.. Sebuah dapur keris lurus yang memiliki daya tarik tersendiri,… selengkapnya
Rp 6.500.000Keris Tilam Sari Wahyu Tumurun Dapur keris : Tilam Sari Pamor Keris : Wahyu Tumurun Tangguh perkiraan Tuban Warangka Gayaman jogja dengan pendok bunton Tilam sari merupakan jenis dapur yang masuk dalam kategori keris dasar pemula, tilam yang memiliki makna sebagai alas pembaringan atau dasar sedangkan sari melambangkan keharuman. Maksudnya keris tilam sari secara filosofi… selengkapnya
Rp 3.500.000Keris Parung Sari Kinatah Panji Wilis Dapur Keris Parung Sari Pamor Pedaringan Kebak Kinatah Panji Wilis Tangguh Mataram Senopaten Warangka Ladrang Solo pendok blewah Bentuk parung sari sangat mirip dengan sengkelat, ricikan yang membedakan hanyalah lambe gajah pada kedua keris tersebut, parungsari memiliki lambe gajah dua sedangkan sengkelat hanya memiliki lambe gajah satu. Meskipun demikian,… selengkapnya
Rp 25.000.000Keterangan Keris Kalamisani Udan Mas Dapur keris Kalamisani Pamor Keris Udan mas Tangguh Pajajaran Warangka gayaman gaya solo pendok blewah Filosofi Dhapur Keris Kalamisani merupakan salah satu benda pusaka dhapur keris lurus yang memiliki ricikan seperti kembang kacang, gusen, greneng, tikel alis, lambe gajah dua dan kruwingan. Keris pusaka kalamisani ini sekilas mirip dengan dhapur… selengkapnya
Rp 4.700.000Keris Brojol Rajah Emas Dapur keris Brojol Pamor wengkon isi Tangguh Tuban Mpu Bekel Jati Warangka Ladrang Solo kayu trembalo iras Pendok Blewah mamas Salah satu koleksi keris Gallery Sembarang Kalir yang istimewa adalah keris brojol ini, tak hanya bentuknya yang utuh, tampilan pamornya yang menawan namun juga terdapat rajah sinarasah emas pada bilahnya.. Tampilan… selengkapnya
Rp 21.000.000

Saat ini belum tersedia komentar.