Beranda » Blog » Pulanggeni Aroma Keharuman Ratus

Pulanggeni Aroma Keharuman Ratus

Diposting pada 20 December 2025 oleh admin / Dilihat: 24 kali / Kategori:

Pulanggeni Aroma Keharuman Ratus

Keris Pulang Geni merupakan salah satu pusaka yang dikenal luas dalam tradisi keris Jawa. Nama Pulang Geni secara harfiah berarti kembali ke api, yang dimaknai sebagai simbol proses pemurnian diri dan kembalinya seseorang pada asal nilai dan tanggung jawabnya.
Bisa bermakna juga simbolik “ratus/dupa/kemenyan” yang melambangkan kewajiban berbuat baik agar memiliki nama harum dan dikenang, Pulanggeni bisa diartikan yang menyimbolkan bahwa dalam kehidupan ini manusia harus berusaha memiliki nama harum dg selalu berperilaku baik, menolong sesama dan mengisi hidupnya dengan hal yang bermanfaat bagi orang banyak. Bisa disimpulkan bahwa filosofi keris Pulanggeni yaitu agar pemilik keris ini senantiasa memiliki nama baik di tengah masyarakat,, dihormati dan disegani oleh semua orang serta terhindar dari segala bentuk fitnah dan kejahatan yang bisa menghancurkan reputasi dan nama baiknya.
Aroma ratus dan dupa tidak dapat digenggam, namun kehadirannya dirasakan oleh siapa pun di sekitarnya. Demikian pula perbuatan baik: tidak selalu terlihat, tidak selalu dipuji, tetapi menyebar dan menetap dalam ingatan. Pulanggeni menjadi pengingat bahwa kewajiban manusia adalah berbuat baik secara konsisten, tanpa menuntut pengakuan.
Makna “pulang” dalam Pulanggeni dimaknai sebagai kembalinya manusia pada asal nilai luhur, sedangkan “geni” bukan sekadar api, melainkan proses pembakaran ego. Seperti kemenyan yang habis terbakar demi menghasilkan keharuman, manusia pun diajak merelakan kepentingan diri agar manfaatnya dapat dirasakan orang lain.
Dengan demikian, Pulanggeni melambangkan harapan agar seseorang meninggalkan nama harum, bukan karena kedudukan atau kekuasaan, melainkan karena sikap, keteladanan, dan kebaikan yang terus dikenang meski raganya telah tiada.
Ciri-ciri Fisik
Dhapur: Pulanggeni, umumnya luk 5 (melengkung 5).
Ricikan: Memiliki kembang kacang, jalen, lambe gajah, pejetan, dan greneng (kadang ada atau tidak). Gandiknya polos dengan ukuran normal.
Pamor: Bervariasi, bisa Kulit Semangka, Sanak, Keleng, atau lainnya, seringkali dengan kesan gagah dan wingit.

Keris Pulanggeni Tangguh Majapahit

Pulanggeni, Ambu Kang Tinggal

Malam itu, angin berdesir pelan di pendapa kecil Desa Ngadirejo. Di hadapan Ki Dirja, sebilah keris terbaring di atas kain mori putih. Bilahnya tegas dengan luk 5, sederhana, tanpa pamor yang mencolok. Namun namanya berat: Pulanggeni.
Ki Dirja menyalakan ratus di sudut ruangan. Asapnya tipis, naik perlahan, lalu menyebar. Ia tidak menyalakan lampu terang. Cukup temaram, cukup hening. Baginya, Pulanggeni tak pernah berdiri sendiri. Ia selalu datang bersama aroma—pengingat tentang hidup yang dibakar oleh waktu.
“Geni ora kanggo ngobong wong liya,” ucapnya lirih kepada Jatmiko, muridnya yang duduk bersila. “Geni kanggo ngobong awakmu dhewe. Supaya ambumu metu.”
Jatmiko menatap keris itu. Ia muda, cerdas, dan ambisius. Namanya mulai dikenal, tapi suaranya sering meninggi, langkahnya tergesa. Ia ingin dikenang cepat.
Ki Dirja melanjutkan, “Keris iki ora ngajari menang. Pulanggeni ngajari tinggal.” Ia menunjuk ratus yang hampir habis. “Kemenyan iku entek, nanging ambune tetep ana. Wong sing urip apik, ragane bisa ilang, nanging jenenge ora.”
Beberapa tahun berlalu. Jatmiko pergi merantau. Ia jatuh, bangkit, salah, dan belajar. Saat ia kembali ke desa, rambutnya lebih kusam, suaranya lebih tenang. Ia membawa Pulanggeni bukan di pinggang, melainkan di hati. Keris itu jarang dikeluarkan, hanya dibersihkan dengan sabar, seperti niat yang dijaga diam-diam.
Ketika Ki Dirja wafat, tidak ada ratapan panjang. Hanya ratus yang kembali dibakar di pendapa. Orang-orang menyebut namanya dengan senyum, menyebut jasanya tanpa diminta.
Jatmiko meletakkan Pulanggeni di tempat semula. Ia paham kini: keris itu bukan pusaka untuk menunjukkan diri, melainkan cermin. Selama hidup dibakar oleh kebaikan, nama akan harum dengan sendirinya.
Asap ratus naik, perlahan, lalu hilang.
Namun Pulanggeni tetap bekerja.

 

Tags: , , ,

Bagikan ke

Pulanggeni Aroma Keharuman Ratus

Saat ini belum tersedia komentar.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Pulanggeni Aroma Keharuman Ratus

Sidebar
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

Chat via Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin
● online
Admin
● online
Halo, perkenalkan saya Admin
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja