Sebagian orang mengenalnya karena filosofi dan tuah yang melekat padanya:
perlambang rezeki yang terus mengalir, sebagaimana hujan yang turun dan memberi
kehidupan kepada bumi. Namun bagi kami, daya tarik Udan Mas tidak berhenti pada
filosofi tersebut.Ada sesuatu yang lebih menarik ketika kita mau memperhatikan bilahnya dengan
lebih saksama. Pola Udan Mas bukan sekadar pola yang muncul secara
kebetulan dari proses penempaan. Ia merupakan salah satu bentuk
pamor rekan, pamor yang dibuat melalui perencanaan dan perlakuan
khusus terhadap bahan pamor dan besi ketika ditempa.
Ketika Pamor Tidak Sekadar Dibentuk, tetapi Direncanakan
Coba perhatikan permukaan bilah keris ini. Tampak bulatan-bulatan kecil yang
tersusun rapi, berulang dari bagian pangkal menuju ujung bilah. Susunannya
memiliki karakter yang khas, dengan pola dua-satu-dua (2-1-2).
Jika diamati dengan teliti, susunan tersebut mengingatkan kita pada butiran
emas yang jatuh berderai.
Di situlah letak salah satu pesona Udan Mas. Keindahan tersebut bukan hanya
persoalan hasil akhir, tetapi juga tentang bagaimana seorang empu harus
membayangkan pola sebelum pola itu benar-benar hadir pada bilah.
Kita mungkin dapat menikmati keindahannya hanya dalam beberapa detik.
Tetapi di balik beberapa detik kekaguman itu, terdapat proses panjang:
gagasan, pemilihan bahan, penyusunan pamor, penempaan, pelipatan,
pengaturan posisi material, hingga ketepatan seorang empu menjaga agar pola
yang direncanakan dapat muncul sebagaimana yang diharapkan.
Karena itu, memandang Udan Mas sesungguhnya juga berarti mengagumi
kecerdasan, ketelitian dan kesabaran manusia pada masa lalu.
Sebuah gagasan abstrak diterjemahkan menjadi pola pada sebilah besi.
Pamor Rekan: Keindahan yang Memerlukan Perencanaan
Dalam tradisi perkerisan, Udan Mas dikenal sebagai pamor rekan.
Berbeda dengan pamor yang terbentuk karena pola tertentu yang lebih banyak
bergantung pada proses dan karakter bahan, pamor rekan dibuat dengan
perencanaan khusus agar menghasilkan bentuk yang dikehendaki.
Inilah yang membuat Udan Mas menarik untuk dipelajari. Seorang empu tidak
hanya menempa logam, tetapi juga seolah-olah sedang “menggambar” dengan
bahan yang belum menampakkan gambarnya.
Pola bulatan yang tersusun teratur menjadi bukti bahwa sebuah keris dapat
menjadi pertemuan antara teknologi tradisional, seni, rasa dan
perencanaan.
Bahkan semakin kita memahami prosesnya, semakin terasa bahwa bilah keris
tidak semestinya hanya dipandang sebagai benda tua atau benda indah.
Ia adalah jejak pengetahuan yang diwariskan melalui keterampilan tangan.
Dari Gagasan, Proses, hingga Tirakat
Ada bagian lain yang juga menarik untuk direnungkan.
Dalam tradisi pembuatan keris, proses seorang empu tidak hanya berkaitan
dengan kemampuan mengolah material. Di dalamnya terdapat laku, disiplin,
konsentrasi, doa dan dalam berbagai tradisi juga dikenal adanya
tirakat.
Kita tentu tidak dapat melihat seluruh proses batin yang menyertai lahirnya
sebuah pusaka. Namun justru di situlah nilai kebudayaannya menjadi menarik.
Sebuah keris lahir bukan hanya dari besi dan pamor, melainkan dari
pertemuan antara gagasan, keterampilan, ketekunan dan laku.
Maka Udan Mas bukan hanya sesuatu yang pantas dikagumi karena cantik.
Ia juga layak diuri-uri, dipelajari dan dirawat sebagai
bagian dari pengetahuan budaya yang pernah dimiliki leluhur kita.
Udan Mas dan Filosofi Rezeki yang Mengalir
Secara filosofis, nama Udan Mas sering dimaknai sebagai
“hujan emas”. Hujan memberikan kehidupan, sementara emas menjadi perlambang
kemakmuran dan kesejahteraan.
Dari sinilah lahir harapan tentang rezeki yang datang, mengalir dan
memberikan manfaat. Bukan semata-mata tentang kekayaan material, tetapi
tentang kecukupan dan keberkahan dalam menjalani kehidupan.
Menariknya, filosofi tersebut seolah mendapatkan bentuk visual pada bilah.
Bulatan-bulatan pamor yang berderet menyerupai butiran hujan yang turun.
Ketika terkena cahaya, pamor tersebut dapat memberikan kesan seperti
butiran logam berharga yang tersebar pada permukaan bilah.
Di titik inilah nama, bentuk dan filosofi bertemu:
Udan Mas bukan hanya disebut sebagai hujan emas, tetapi juga
berusaha menghadirkan gambaran hujan emas itu sendiri melalui pola pamornya.
Keris Brojol Tangguh Madiun
Bilah yang kami hadirkan kali ini adalah Keris Brojol berpamor
Udan Mas, tangguh Madiun. Dapur Brojol dikenal dengan bentuknya
yang sederhana, lugas dan tidak berlebihan. Kesederhanaan tersebut justru
memberikan ruang yang luas bagi pamor untuk menjadi salah satu pusat
perhatian.
Dipadukan dengan pamor Udan Mas, kesederhanaan dapur Brojol bertemu dengan
pola pamor yang kaya secara visual. Hasilnya adalah sebuah bilah yang
tidak membutuhkan banyak ornamen untuk menarik perhatian.
Tangguh Madiun juga menjadi bagian penting dari karakter
keris ini. Dalam dunia perkerisan, tangguh bukan sekadar penamaan daerah,
tetapi merupakan cara untuk membaca jejak zaman, gaya, bahan, teknik,
karakter garap dan ciri-ciri yang terdapat pada sebuah bilah.
Keris dengan karakter Madiun kerap diasosiasikan dengan kesan
wingit dan gegirisi—sebuah kesan yang muncul dari
karakter bilah dan aura tradisional yang menyertainya. Bagi sebagian
pecinta tosan aji, justru karakter semacam inilah yang membuat sebuah
keris terasa memiliki kepribadian.
Warangka Branggah Yogyakarta dari Kayu Timoho
Keselarasan sebuah keris tidak hanya ditentukan oleh bilah. Warangka,
sebagai rumah bagi bilah, juga memiliki peran besar dalam membangun
keseluruhan karakter sebuah tosan aji.
Keris Brojol Udan Mas ini menggunakan warangka Branggah gaya
Yogyakarta dengan bahan kayu Timoho.
Karakter Branggah memberikan kesan tegas dan berwibawa, sementara
serat kayu Timoho menghadirkan keindahan alami yang tidak dibuat-buat.
Perpaduan tersebut terasa menarik ketika disandingkan dengan bilah Udan Mas.
Jika pamor menghadirkan permainan pola logam, maka kayu Timoho menghadirkan
permainan serat alam. Keduanya sama-sama memiliki keindahan yang baru
benar-benar terasa ketika diamati dengan tenang.
Warangka tersebut dilengkapi dengan pendok blewah,
menambah kesan klasik sekaligus memberikan perlindungan dan karakter
tersendiri pada keseluruhan warangka.
Lebih dari Sekadar Keindahan
Pada akhirnya, yang membuat keris Udan Mas menarik bukan hanya karena
namanya yang indah, bukan pula semata karena filosofi tentang rezeki.
Ada sebuah cerita panjang di balik setiap bulatan pamornya.
Kita sedang melihat hasil dari sebuah gagasan yang pernah hidup di kepala
seorang empu. Gagasan itu kemudian diterjemahkan melalui bahan, api,
palu, penempaan, ketelitian dan waktu hingga akhirnya menjadi pola yang
dapat kita lihat berabad-abad kemudian.
Mungkin kita tidak pernah benar-benar mengetahui bagaimana persisnya
proses seorang empu menciptakan bilah ini. Mungkin pula kita tidak akan
pernah mengetahui seluruh laku yang menyertainya. Namun justru karena itu,
keris menjadi menarik untuk terus dipelajari.
Sebab merawat keris bukan hanya merawat sebilah besi tua.
Merawat keris adalah salah satu cara merawat ingatan tentang
kecerdasan, rasa, keterampilan dan kebudayaan leluhur.
Dan pada sebilah Keris Brojol Pamor Udan Mas Tangguh Madiun
ini, kita dapat membaca semuanya sekaligus: kesederhanaan dapur Brojol,
karakter wingit Madiun, keindahan pamor rekan Udan Mas, keanggunan warangka
Branggah Yogyakarta, serat kayu Timoho, hingga detail pendok blewah.
Bukan sekadar keris untuk dikagumi, tetapi warisan untuk dipahami,
dirawat dan diuri-uri.




















Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.